Dua Tahun Dua tahun sudah Apri putus dengan Indah .Namun masih saja muka murung apri masih terpampang rapi saat melihat Indah bemesraan dengan pacar barunya dikampus. Aku yang sudah tahu watak Apri dari dulu berusaha menghibur dan memahami perasaanya. “Apri ,lu napa gitu . Biasa aja kali pri . Entar makin bahagia indah lihat lu murung” Apri tidak menjawab dan berjalan lurus menuju kantin . Aku yang peduli ini dengan patuhnya mengikutinya . Menemaninya makan mie ayam dengan segelas es teh . Aku ratapi raut wajahnya .Seperti ada yang ingin dikatakan namun ditahan . Tapi aku tetap diam tidak ingin memancing ia berbicara . Karena sudah jelas yang ingin ia katakan pasti soal Indah . Soal Indah yang menyelingkuhinya dan memutuskannya tepat dihari ulang tahunnya 2 tahun yang lalu . Soal Indah yang masih ia cintai sampai hari ini dengan tulus dan penuh harap ia akan kembali . Soal Indah , wanita yang bisa ia cintai hanya karena ia membantu Apri menyelesaikan proyek fisika semester 1...
Rara terbaring letih di atas sofa. Menyapu peluh dengan seusap tisu. Menghela nafas dengan pelan .Rara terdiam sejenak.Mengingat semua kejadian semalam. Saat-saat kata putus terlontar dari irwan padanya. Hati terasa lemah. Jiwa terasa rapuh. Tak pernah sekalipun irwan menyematkan kosa kata itu pada lisannya. Sungguh rara tertegun. Menetes kecewa. Tapi kini Rara sadar . Bahwa irwan bukan lagi miliknya. Ia tak harus menjaganya lagi. Ia tak harus mengasuhnya seperti bayi. Ia tak perlu lagi menjadi alarm baginya Rara pun sadar bahwa Irwan bukan wujudnya cinta sesungguhnya. Irwan hanya seorang gojek yang mampir sebentar sambil menyeduh kopi dan berbagi sejenak akan hiruk pikuknya dunia. Lalu ia pergi ke dunianya kembali. Irwan hanya singgah , bertamu. Bukan menetap. Yang membuat ia nyaman pada Rara adalah kopinya , bangku panjangnya. Bukan diri Rara